logo TSLab

Semakin Banyak Orang Menghitung Kalori. Apakah Produk Anda Sudah Menampilkan Informasi Gizinya?

Memilih makanan sekarang bukan lagi sekadar soal enak atau tidak. Semakin banyak konsumen yang mulai membaca label sebelum membeli dan memperhatikan apa yang sebenarnya mereka konsumsi. Mulai dari jumlah kalori, protein, lemak, karbohidrat, gula, hingga natrium, informasi mengenai kandungan gizi menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih produk pangan.

Bagi konsumen, informasi tersebut membantu mereka membuat pilihan yang sesuai dengan kebutuhan dan pola makan masing-masing. Sementara bagi produsen, mencantumkan informasi nilai gizi pada kemasan merupakan bagian penting dalam memberikan informasi yang transparan mengenai produk.

Pertanyaannya, dari mana angka-angka kandungan gizi pada kemasan tersebut berasal?

Salah satu sumber data yang dapat digunakan adalah hasil pengujian kandungan gizi di laboratorium.

Apa Itu Uji Kandungan Gizi?

Uji kandungan gizi adalah pengujian laboratorium yang dilakukan untuk mengetahui jumlah atau kadar zat gizi tertentu yang terdapat dalam suatu produk pangan.

Parameter yang diuji dapat disesuaikan dengan karakteristik produk dan kebutuhan informasi gizi. Beberapa parameter yang umum dianalisis antara lain:
• Kadar air
• Kadar abu
• Protein
• Lemak total
• Karbohidrat
• Energi atau kalori
• Gula
• Natrium
• Lemak jenuh

Data hasil pengujian tersebut dapat menjadi dasar bagi produsen untuk mengetahui karakteristik nutrisi produknya dan mendukung penyusunan informasi nilai gizi pada label.

Mengapa Informasi Nilai Gizi Semakin Penting bagi Produk Pangan?

Konsumen saat ini semakin aktif mencari informasi sebelum membeli makanan dan minuman. Label produk tidak hanya berfungsi sebagai identitas, tetapi juga menjadi sumber informasi bagi konsumen untuk memahami kandungan produk yang akan dikonsumsi.

Beberapa alasan mengapa pengujian kandungan gizi penting bagi pelaku usaha antara lain:

1. Membantu Menyediakan Informasi yang Transparan kepada Konsumen
Konsumen memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Ada yang memperhatikan jumlah kalori, membatasi konsumsi gula, mengatur asupan natrium, atau memastikan kebutuhan protein hariannya terpenuhi. Dengan adanya informasi nilai gizi yang jelas, konsumen dapat mengetahui kandungan nutrisi suatu produk dan membuat keputusan berdasarkan informasi yang tersedia. Bagi produsen, transparansi ini juga dapat meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk dan merek.

2. Mendukung Penyusunan Informasi Nilai Gizi pada Kemasan
Informasi seperti energi, protein, lemak, karbohidrat, gula, dan natrium membutuhkan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Pengujian laboratorium dapat membantu produsen memperoleh data mengenai kandungan nutrisi produk yang kemudian dapat digunakan sesuai kebutuhan penyusunan informasi nilai gizi dan ketentuan pelabelan pangan yang berlaku. Dengan demikian, angka yang tercantum pada kemasan tidak hanya sekadar perkiraan, tetapi memiliki dasar analisis yang jelas.

3. Membantu Produsen Mengetahui Karakteristik Produk
Setiap produk memiliki komposisi dan karakteristik yang berbeda. Bahkan produk dengan jenis yang sama dapat memiliki kandungan gizi yang berbeda apabila menggunakan bahan baku, formulasi, atau proses produksi yang berbeda. Melalui pengujian, produsen dapat memperoleh gambaran mengenai kandungan nutrisi aktual pada produknya. Data tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk:
• Evaluasi formulasi produk.
• Pengembangan produk baru.
• Membandingkan perubahan komposisi setelah reformulasi.
• Menentukan karakteristik nutrisi produk.
• Mendukung dokumentasi dan pengembangan mutu produk.

4. Mendukung Pengembangan Produk yang Lebih Sesuai dengan Tren Konsumen
Meningkatnya kesadaran terhadap pola makan membuat berbagai kategori produk dengan klaim atau karakteristik tertentu semakin banyak dikembangkan. Contohnya produk dengan kandungan gula lebih rendah, produk tinggi protein, atau produk yang menargetkan konsumen dengan kebutuhan nutrisi tertentu. Untuk mengembangkan produk seperti ini, produsen perlu mengetahui terlebih dahulu kandungan nutrisi aktual produknya. Hasil pengujian laboratorium dapat menjadi salah satu data pendukung dalam proses evaluasi dan pengembangan formulasi.


Apa Saja Parameter yang Bisa Diuji untuk Mengetahui Kandungan Gizi?


Tidak semua produk membutuhkan parameter pengujian yang sama. Pemilihan parameter perlu disesuaikan dengan jenis produk, formulasi, serta tujuan pengujian.

1. Analisis Proksimat
Analisis proksimat merupakan salah satu jenis pengujian yang umum digunakan untuk mengetahui komponen utama dalam suatu bahan atau produk pangan. Parameter yang umumnya termasuk dalam analisis proksimat meliputi:
• Kadar air, untuk mengetahui jumlah air dalam produk.
• Kadar abu, sebagai gambaran kandungan mineral total.
• Protein, untuk mengetahui kadar protein.
• Lemak, untuk mengetahui kandungan lemak total.
• Karbohidrat, yang dapat ditentukan berdasarkan komponen gizi lainnya.

Data dari analisis tersebut juga dapat digunakan dalam perhitungan nilai energi produk.

2. Energi atau Kalori
Kalori menunjukkan jumlah energi yang dapat diperoleh tubuh dari makanan atau minuman. Informasi mengenai energi menjadi salah satu bagian yang banyak diperhatikan konsumen, terutama oleh mereka yang sedang mengatur asupan energi hariannya. Namun, jumlah kalori sebaiknya tidak dilihat secara terpisah. Kandungan protein, lemak, karbohidrat, gula, dan zat gizi lainnya juga memberikan informasi yang lebih lengkap mengenai karakteristik nutrisi suatu produk.

3. Gula
Kandungan gula menjadi salah satu informasi yang semakin sering diperhatikan konsumen. Pengujian gula dapat membantu produsen mengetahui jumlah gula dalam produk dan menyediakan data yang diperlukan sesuai tujuan pengujian serta kebutuhan pelabelan.

4. Natrium
Natrium merupakan salah satu parameter yang banyak diperhatikan, khususnya pada produk makanan yang memiliki karakteristik rasa asin atau menggunakan bahan tertentu yang mengandung natrium. Data kandungan natrium dapat membantu produsen memahami komposisi nutrisi produknya secara lebih lengkap.

5. Lemak Jenuh
Selain mengetahui jumlah lemak total, produsen juga dapat membutuhkan informasi mengenai lemak jenuh, terutama apabila parameter tersebut relevan dengan karakteristik produk dan kebutuhan informasi nilai gizinya.

Apakah Cukup Menghitung Kalori Saja?

Jawabannya, tidak selalu.

Kalori memang menjadi salah satu informasi yang paling mudah diperhatikan konsumen, tetapi angka kalori saja belum memberikan gambaran lengkap mengenai kandungan nutrisi suatu produk.

Sebagai contoh, dua produk dapat memiliki jumlah kalori yang hampir sama, tetapi memiliki komposisi protein, lemak, karbohidrat, gula, atau natrium yang berbeda.

Karena itu, informasi nilai gizi sebaiknya dilihat secara keseluruhan.

Bagi produsen, hal ini juga berarti pengujian sebaiknya tidak hanya berfokus pada satu parameter tanpa mempertimbangkan kebutuhan informasi produk secara keseluruhan.

Kapan Produk Perlu Dilakukan Uji Kandungan Gizi?

Pengujian kandungan gizi dapat dilakukan pada berbagai tahap pengembangan dan produksi pangan.

Beberapa kondisi yang dapat menjadi pertimbangan untuk melakukan pengujian antara lain:
• Saat mengembangkan produk pangan baru.
• Sebelum produk dipasarkan secara luas.
• Saat membutuhkan data untuk penyusunan informasi nilai gizi.
• Ketika terjadi perubahan formulasi atau bahan baku.
• Saat melakukan reformulasi produk.
• Ketika ingin mengevaluasi kandungan nutrisi produk.
• Saat membutuhkan data laboratorium untuk mendukung dokumentasi produk.
• Secara berkala sebagai bagian dari pengendalian mutu.

Pengujian juga dapat dipertimbangkan kembali apabila terjadi perubahan signifikan pada bahan baku, formulasi, atau proses produksi yang berpotensi memengaruhi kandungan nutrisi produk.

Apakah Uji Kandungan Gizi Diperlukan untuk Registrasi Izin Edar BPOM?

Informasi Nilai Gizi tidak hanya menjadi persyaratan pelabelan, tetapi juga menjadi salah satu aspek yang diperiksa dalam proses pendaftaran izin edar pangan olahan di BPOM. Dalam penilaian keamanan pangan untuk penerbitan izin edar, Direktorat Registrasi Pangan Olahan BPOM turut mengacu pada ketentuan mengenai Informasi Nilai Gizi, di samping aspek lain seperti kategori pangan, cemaran, bahan tambahan pangan, klaim, dan pelabelan.

Sejalan dengan berlakunya Peraturan BPOM Nomor 10 Tahun 2026 tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan Olahan sejak 17 Juni 2026, BPOM turut menerbitkan pengumuman resmi mengenai pemberlakuan aturan tersebut dalam proses registrasi pangan olahan. Artinya, produk yang akan didaftarkan atau diperbarui izin edarnya perlu menyesuaikan pencantuman Informasi Nilai Gizi pada labelnya dengan ketentuan terbaru ini.

Bagi produsen yang sedang mempersiapkan atau memperbarui pendaftaran izin edar, data hasil uji kandungan gizi di laboratorium dapat menjadi salah satu dasar untuk menyusun Informasi Nilai Gizi yang sesuai dengan format dan parameter yang dipersyaratkan, sekaligus mendukung kelancaran proses registrasi produk.

Bagaimana Cara Menentukan Parameter yang Akan Diuji?

Salah satu pertanyaan yang sering muncul dari pelaku usaha adalah, “Produk saya harus diuji apa saja?”

Tidak ada satu paket pengujian yang otomatis cocok untuk semua jenis produk.

Produk makanan ringan, minuman, produk bakery, makanan siap santap, maupun produk olahan lainnya dapat memiliki kebutuhan parameter yang berbeda.

Karena itu, sebelum mengirimkan sampel ke laboratorium, produsen sebaiknya menentukan terlebih dahulu tujuan pengujian.

Apakah pengujian dilakukan untuk:
• Mengetahui profil kandungan gizi produk?
• Mendukung penyusunan informasi nilai gizi?
• Mengevaluasi formulasi?
• Pengembangan produk baru?
• Mendukung kebutuhan dokumentasi atau persyaratan tertentu?

Dengan mengetahui tujuan pengujian, parameter yang dipilih dapat menjadi lebih tepat dan sesuai dengan kebutuhan produk.

Uji Laboratorium Bukan Hanya untuk Angka di Kemasan

Bagi sebagian produsen, pengujian kandungan gizi mungkin hanya dianggap sebagai langkah untuk mendapatkan angka yang akan dicantumkan pada label.

Padahal, manfaatnya dapat lebih luas.

Data hasil pengujian dapat menjadi bagian dari proses quality control dan product development. Produsen dapat menggunakannya untuk membandingkan produk antar-batch, mengevaluasi perubahan formulasi, maupun memahami karakteristik nutrisi produk secara lebih objektif.

Dengan kata lain, pengujian kandungan gizi tidak hanya memberikan informasi kepada konsumen, tetapi juga memberikan informasi penting kepada produsen mengenai produk yang mereka hasilkan.

Kesimpulan

Informasi mengenai kalori dan kandungan gizi semakin menjadi perhatian konsumen. Karena itu, produsen pangan perlu memastikan bahwa informasi mengenai produk dapat diberikan secara jelas dan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Melalui uji kandungan gizi di laboratorium, produsen dapat memperoleh data mengenai berbagai parameter nutrisi seperti protein, lemak, karbohidrat, energi, gula, natrium, dan parameter lainnya sesuai kebutuhan.

Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan informasi pada kemasan, hasil pengujian juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan produk, evaluasi formulasi, pengendalian mutu, dan meningkatkan transparansi kepada konsumen.

Sudahkah Anda mengetahui kandungan gizi produk Anda?

Ingin melakukan uji kandungan gizi, analisis proksimat, uji kalori, gula, natrium, atau lemak jenuh untuk produk pangan Anda? Hubungi TSLab untuk mendapatkan informasi mengenai pilihan parameter pengujian, kebutuhan sampel, metode pengujian, dan proses pengujian yang sesuai dengan kebutuhan produk Anda.

📲 WhatsApp: +62 813-2091-940
📧 Email: [email protected]
🔗 LinkedIn: Thermalindo Laboratory (TSLab)

Referensi
1. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 10 Tahun 2026 Tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan Olahan.
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI.
3. Direktorat Registrasi Pangan Olahan, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Pengumuman tentang Pemberlakuan Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 10 Tahun 2026 tentang Informasi Nilai Gizi pada Label Pangan Olahan dalam Proses Registrasi Pangan Olahan.

logo TSLab

Terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), kami menyediakan layanan uji berkualitas tinggi di berbagai sektor, termasuk keamanan pangan, lingkungan, dan produk industri. Dengan teknologi canggih dan metode terbaru.

Need Help?